Tampilkan postingan dengan label Adab Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab Sunnah. Tampilkan semua postingan

Makan dan minum sehat ! Bagian 1



Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh  . . .

Sahabat semua :)

Salah satu aktifitas yang sering kita lakukan setiap hari di dalam kehidupan sehari-hari adalah makan dan minum. Karena dua hal ini telah menjadi kebutuhan pokok utama dalam kehidupan setiap orang. Namun, makan dan minum yang menjadi hal penting ini bisa menjadi manfaat dan madharat untuk kehidupan manusia, terutama dari segi kesehatan.

Kenapa tidak ? karena budaya yang seakan menjadi trend, sesuatu yang dibanggakan. Tetapi itulah penyebab datangnya madharat. Contohnya, makan dan minum sambil berdiri, biasanya dilakukan pada saat pesta. Ini adalah budaya barat yang sekarang menjadi acuan bagi bangsa kita, terlihat bagus namun justru itu tidak bangus.

Sedangkan Nabi saw. mencontohkan untuk kita khususnya umat Islam untuk makan dan minum sambil duduk. Makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang, membagi lambung menjadi 3 bagian, 1/3 untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 untuk udara. Sehingga perut tidak dipenuhi dengan air atau makanan saja. Atau udara saja. :D

Sebelum makan, cuci tangan terlebih dahulu, membaca do'a ketika datang makanan, mengoles sedikit garam ke jari manis lalu dimasukan ke mulut tepat di langit-langit. Makan buah-buahan, lalu minum sedikit air. Untuk suapan pertama sampai suapan ketiga anda bisa ambil makanan dengan tiga jari, yakni kombinasi jari tengah, telunjuk dan ibu jari.

Itu beberapa adab yang telah dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad saw. yang dijadikan suri tauladan bagi umatnya. Apa yang dicontohkan Nabi saw. pasti ada hikmahnya. Dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap aktifitas akan menjadi ibadah apabila mengikuti contoh (Sunnah) Nabi saw.

Mari belajar mengamalkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Biar hidup penuh dengan keberkahan.

Artikel ini hanya menerangkan sebagian kecil dari sunnah makan dan minum yang dicontohkan Nabi saw.. InsyaaAllah dalam artikel yang akan datang akan ditambahkan lagi sunnah yang lainnya. Pasti banyak sekali kekurangannya, mohon saran dan masukannya.

Dan yang terbaik diantara kita adalah yang mengamalkan dan menyampaikan.

Semoga bermanfaat :)

Inilah Adab-adab Yang Menjadi Sebab Kita Mendapatkan Pahala Ketika Masuk WC Dan Istinja



Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh . . .

Salam sehat :)


BAB ISTINJA Dan Adab-adabnya

Anjuran dalam istinja :

ü  Masuk WC dengan kaki kiri terlebih dahulu. (Tirmidzi). * Usahakan masuk dengan beralas kaki untuk menghindari najis. (Imam Nawawi).

ü  Sebelum masuk WC/kamar mandi disunnahkan membaca doa :

“Allahumma innii a’udzubika minalkhubutsi wal khobaaits”

Artinya : “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syetan laki-laki dan wanita.” (Bukahri, Muslim).

ü  Keluar WC melangkahkan kaki kanan lebih dahulu, dan membaca doa :

“gufroonaka. Allhamdulillaahilladzii adzhaba ‘anniladzaa wa’aa fanii”

Artinya : “Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dariku dan telah menyembuhkanku.” (Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah).

ü  WC adalah tempat berkumpul syetan, mudharat berlama-lama di dalamnya. Jika selesai hajatnya, secepatnya keluar dari WC. (Nasa’I, Ibnu Majah).

ü  Dianjurkan bertutup kepala ketika di dalam WC. Dan baru membukanya jika perlu membasahi rambut kita. (Ibnu Sa’ad). * Jika tidak ada penutup kepala hendaknya ditutup dengan lengan baju. (Imam Nawawi).

ü  Buang air hendaknya dengan duduk, jangan berdiri. Buang air berdiri adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i). * cara duduk beristinja adalah bertumpu diatas kaki kanan dan kaki kiri tegak diatas tanah. Hal itu lebih memudahkan najis keluar dan mengistirahatkan anggota tubuh utama, seperti lambung, dsb.. (Imam Nawawi).

ü  Hendaknya beristinja hanya dengan  tangan kiri. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. (Bukhari, Nasa’i, Muslim, Tirmidzi).

ü  Sunnah menghemat air. Gunakan secukupknya. Nabi saw. Biasa menggunakan air dengan ukuran, seperti : ukuran air wudhu, ukuran air buang air kecil, dan untuk mandi. (Tirmidzi).

ü  Hati-hati dengan cipratan air kencing, terutama ketika kencing berdiri. Banyak orang disiksa di dalam kubur, karena tidak berhati-hati ketika istinja dan tidak sempurna ketika berwudhu. (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah).

Larangan Dalam Istinja

ü  Jangan membawa lafazh ‘Allah’ dan ‘Muhammad’ atau ayat-ayat Al-qur’an ke dalam WC. (Nasa’i).

ü  Jangan membuang hajat dengan menghadap ke arah kiblat dan jangan membelakanginya.  Menghadaplah selain kedua arah tadi. Boleh membelakangi atau menghadap kiblat, bila di dalam gangguan. Itu pun bila terpaksa. (Bukhari, Nasa’I, Muslim, Tirmidzi). * Maksud menghadap atau membelakangi adalah, menyingkapkan qubul atau dubur ke kiblat ataupun membelakanginya. (Imam Nawawi).

ü  Jangan berbicara ata berkomunikasi di dalam WC. (Abu Dawud, Ibnu Majah). * Menjawab salam pun tidak boleh ketika di WC. Menjawabnya cukup dengan isyarat. (Muslim, Tirmidzi, Nasa’i).

ü  Tidak boleh berdua di dalam kamar mandi, kecuali suami istri. (Abu Dawud, Ibnu Majah).

ü  Tidak boleh beristinja dengan tulang atau kotoran hewan yang kering. Benda-benda itu adalah makanan jin. (Muslim, Nasa’i).

ü  Jangan buang air di lubang-lubang tanah, karena mungkin tempat tinggal jin. Sa’aad bin Ubadah pernah mati dibunuh oleh jin karena kencing di lubang tanah. Dan jangan di jalan tempat lewat orang, di tempat berteduh, di sumber air, di pemandian, di bawah pohon yang berbuah, atau di air ayng mengalir. (Muslim, Tirmidzi).

ü  Tidak disukai buang air langsung ke air diam dan mengalir, karena kebanyakan jin bertempat di situ pada malam hari. (Imam Nawawi).

ü  Boleh buang air dengan menggunakan pispot. Nabi saw. Biasa meletakkannya di dekat tempat tidur beliau. (Nasa’i).

ü  Jangan makan, jangan bernyanyi dan bersiul, di dalam WC walapun sedang tidak buang air atau mandi. (Abu Dawud, Ibnu Majah).

ü  Jangan menampakkan aurat ketika buang air, usahakan tertutup diri atau pergi menjauh agar tidak terlihat oleh umum. (Muslim, Tirmidzi). * Sebaiknya mencari tempat yang tidak terlihat orang, tidak tercium baunya, dan tidak terdengar. (Imam Nawawi).

ü  Laki-laki tidak boleh melihat aurat sesame laki-laki dan wanita tidak boleh melihat aurat sesama wanita. (Ibnu Asakir).

ü  Makruh kencing di tempat mandi, karena khawatir sisa air kencing akan mengenai badan orang yang mandi. (Tirmidzi).

ü  Sunnah menuntaskan sisa air kencing dengan berdehem dan memijit-mijitnya dari pangkal kemaluan sampai ujungnya tiga kali. (Imam Nawawi).

ü  Jangan menggunkan jari telunjuk dan jempol untuk istinja. Setelah selesai hendaknya tangan digosokkan ke tanah atau dinding atau menghilangkan bau, lalu dicuci dengan air. (Imam Nawawi).

ü  Jangan memandang ke langit, ke farjinya atau ke kotoran yang keluar darinya. Dan makruh bagi orang yang buang hajat itu berbicara atau melakukan perkerjaan lain selagi membuang hajatnya. (Muslim, Abu Dawud).

ü  Benda-benda yang diperbolehkan untuk beristinja, yaitu : Air, batu, tanah liat yang keras dan kertas. Digunakan sebanyak tiga kali atau jumlah ganjil. (Bukhari, Ibnu Majah). * Jika sudah suci di kai yang kedua, sempurnakan dengan yang ketiga. Jika sudah merasa suci di kali yang keempat, sempurnakan dengan kelima,dst.. Lebih diutamakan menggunakan gabungan antara batu dan air. (Imam Nawawi).

·         Benda-benda yang tidak sah untuk istinja :

-          Benda-benda najis atau terkena najis. (Bukhari).

-       Makanan manusia, seperti roti dan sebagainya  atau makanan jin, seperti tulang. (Muslim, Tirmidzi).

-       Benda-benda terhormat, seperti bagian tubun binatang yang belum terpisah darinya. Terlebih lagi bagian tubuh manusia. Tetapi, jika telah terpisah darinya dan suci, seperti rambut binatang yang halal dimakan dagingnya dan kulit bangkai yang telah disamak, maka boleh untuk beristinja.


Supaya Mandinya Jadi Ibadah, Ayo Baca Dan Belajar Amalkan Bab Ini !





BAB MANDI Dan Adab-adabnya

Mandi wajib, berdasarkan dalil, firman Allah swt., “Dan jika kamu junub, maka mandilah.” (Al-Ma’idah : 6).

Sedangkan untuk mandi sunnah, diantara dalilnya adalah sabda Nabi saw., “Adalah kewajiban setiap muslim kepada Allah, mandi pada setiap mainggunya sehari, dimana ia membasuh kepala dan tubuhnya.” (Bukhari, Muslim).

Mandi termasuk dalam rangkaian bersuci. “ (Bukhari, Muslim).

Hikmah disyariatkan mandi : 1. Memperoleh pahala, karena bersuci adalah bagian dari iman (Muslim). 2. Memperoleh kebersihan. (Bukhari, Muslim). 3. Memperoleh semangat dan kesegaran.

Anjuran dalam mandi : Terlebih dahulu berniat mandi untuk menghilangkan hadast besar. Kemudian mencuci kedua telapak tangan, lalu membasuh kemaluan dan telapak tangan digosokkan ke tanah atau ke dinding. Kemudian disunnahkan untuk berwudhu terlebih dahulu, yaitu berkumur, beristinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya), mencuci muka dan kedua hasta tangan, kemudian mengalirkan air diatas kepala sebanyak tiga kali. Selanjutnya mengalirkan air ke seluruh tubuh. Lalu mencuci kedua kaki. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i).

Wanita berambut panjang boleh hanya dengan menyiramkan air tiga kali ke atas rambutnya ketika mandi wajib. (Muslim).

Sunnah mendahulukan badan sebelah kanan ketika menyiram badan, kemudian sebelah kiri, lalu bagian depan dan belakang. (Nasa’i).

Boleh mandi wajib junub dengan berendam di dalam air, asalkan semua anggota badan terkena air. (Asy-Syafi’i).

Dalam mandi wajib, air harus mengenai semua pori-pori badan kemudian meratakannya, sekaligus membersihkannya. (Tirmidzi).



Mandi diwajibkan apabila :

Dua kemaluan laki-laki dan wanita bertemu.

Keluar mani dengan sebab apapun, baik mimpi, mengkhayal, bergurau, bermimpi, dsb.. Sedangkan jika bermimpi, tetapi tidak keluar mani maka tidka diwajibkan mandi.

Setelah berhenti dari keluar darah haidh dan selesai dari nifas. (Tirmidzi).

Mandi bagi mayit. (Bukhari).

Orang kafir ketika baru masuk Islam. (Bukhari).

Sebaiknya berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Dan cukup sekali mandi setelah menggauli beberapa istri ataupun beberapa kali. Akan tetapi, dianjurkan berwudhu lebih dulu sebelum melakukan yang kedua kalinya. (Tirmidzi). * Dan boleh langsung mandi setelah berhubungan atau tidak langsung mandi, menangguhkannya hingga bangun dari tidur. (Nasa’i).

Usahakan jangan sampai menyentuh kemaluan dengan telapak tangan jika sudah selesai mandi. Jika tersentuh, maka batallah wudhunya. (Nasa’i).

Nabi saw. Menolak memakai handuk setelah mandi. (Nasa’i).

Usahakan menutup diri ketika mandi sehingga aurat tertutup. (Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i). 
* Sebaiknya memakai kain basahan khusus untuk mandi.

Disunnahkan mandi, pada 1. Hari raya (Imam Malik), 2. Jum’at (Tirmidzi, Bukhari, Muslim), 3. Gerhana matahari dan bulan, 4. Sesudah memandikan mayat (Ahmad, Tirmidzi), 5. Setelah kembali dari perperangan (Muslim), 6. Ketika ihram (Bukhari), 7. Ketika wuquf di Arafah (Bukhari), 8. Ketika memasuki kota Mekkah (Bukhari, Abu Dawud).

Hal – hal yang dimakruhkan ketika mandi :

Boros air. Nabi saw. Mandi dengan 1 sha’ air atau lima mud. (1 sha’ = 4 mud = 40cm3. (Bukhari, Muslim).

Mandi di air yang tergenang. (Muslim). Jika terpaksa, harus diambil dengan hati-hati agar tidak mustakmal.

Wajib Baca ! Beberapa Hal Mengenai Bab Ikhlas Dan Adab-adabnya



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh . . .

Salam Sehat :)

Ikhlas adalah amalan hati. Setiap amalan yang kita lakukan harus didasari keikhlasan, semata-mata karena Allah. Karena Allah hanya akan menerima amalan yang ikhlas, jika suatu amalan tidak di dasari keikhlasan, hal tersebut dikatakan riya, jika amalan di dasari dengan riya, maka bukan pahala yang akan di dapatkan, namun dosa yang akan di dapatkan dari amalan tersebut. 


Tetapi, seseorang jangan tertipu dengan perasaan bahwa dia masih riya dalam melakukan amalan. Justru dia harus tetap istiqomah, sampai riya itu hilang  dan sifat ikhlas masuk ke dalam hatinya.

Dalam artikel pagi ini, akan di sebutkan beberapa hal yang berhubungan dengan ikhlas :

Ikhlas adalah semata-mata karena Allah. (Abu Nashr Samarqandi). * Seperti seseorang yang lari dari binatang buas dan tiada yang menakutkannya selain binatang tersebut. Niatnya murni tanpa campur lainnya. (Al-Ghazali).

Orang ikhlas itu menyembunyikan kebaikannya, sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Dan salah satu tanda ikhlas ialah, beramal tidak ingin dipuji oleh orang lain. (Abu Laist Samarqandi).

Keutamaan ikhlas adalah :

Pahalanya dilipatgandakan, walaupun sedikit. (An-Nisa : 40).

Allah hanya menerima amalan yang ikhlas. (Abu Laist Samarqandi).

Dapat berjumpa dengan Allah. (Al Kahfi : 110).

Ikhlas adalah zuhud dunia.(Abu Laist Samarqandi).

Allah akan menjadikan diamnya sebagai tafakur dan bicaranya sebagai dzikir. (Abu Laist Samarqandi).

Amalan yang ikhlas, dapat dijadikan tawassul do’a. (Bukhari, Muslim).
Bahaya Riya dan Sum’ah

Riya adalah berbuat ingin dilihat oleh orang lain, sedangkan sum’ah adalah berbuat dengan tujuan menginginkan kemasyhuran. (Abu Nashr Samarqandi).

Riya adalah syirik. (Al Mukmin : 65).

Allah akan berlepas diri dari perbuatan yang tidak ikhlas. (Al An’am : 78).

Orang riya beribadah dijanjikan neraka Wail oleh Allah. (Al Ma’uun :4). * Akan dituntut kepada orang yang riya : “Pergilah kepada orang yang kemu beramal karenanya ketika di dunia. Lihatlah apakah kamu mendapatkan ganjaran dari mereka ?” (Abu Nashr Samarqandi).

Amalan orang ikhlas akan ditulis dalam ‘illiyyin. Dan amalan orang tidak ikhlas akan ditulis dalam Sijjin. (Abu Nashr Samarqandi).

Ada sebagian amalan yang lebih baik dilakukan sembunyi-sembunyi, sehingga dapat terselamat dari riya. (Ali Imran : 29).

Orang riya itu meiliki empat tanda :

1. Malas jika sendirian.
2. Meningkatkan amalan jika dipuji.
3. Rajin jika dengan orang lain
4. Mengurangi amalan jika dicela. (Ali bin Abi Thalib ra.).

Jika Allah menghendaki kehancuran seseorang, Allah akan menyiksanya dengan tiga hal :

Allah memberinya ilmu, tetapi tidak diamalkan.

Memberinya kesempatan bergaul dengan orang-orang sholeh, tetapi ia tidak memahami hak-hak mereka.

Memberinya kesempatan beramal shaleh, tetapi tidak ikhlas mengamalkannya. (Hamid Al – lataf).

Orang riya akan dipanggil pada hari Kiamat dengan empat panggilan :

Hai orang kafir !  

Hai orang jahat !

Hai penipu !

Hai orang yang rugi !. (Abu Nashr Samarqandi).

Jangan riya sebelum dan ketika beramal. Setelah beramal, perbanyaklah istighfar, kahawatir masih ada riya. (Abu Bakar Al-Washiti).


Perkataan yang baik dan memberi maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi menyakiti perasaan penerimanya. (al Baqarah : 263).

Bab Hari Raya, Berpakaian dan Berhias



Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh . . . .

Salam sehat sahabat semua
J

Alhamdulillah, Segala Puji Bagi Allah yang telah memberikan kita berbagi nikmat. Terutama nikmat Iman dan Islam. Tentunya hari ini adalah hari kesedihan bagi umat Islam, karena sebentar lagi akan ditinggalkan oleh bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan.

Bagaimana tidak ? Di bulan ini Allah subhaanahu wata’ala memberikan begitu banyak pahala, kasih sayang dan ampunan bagi hamba-Nya yang istiqomah melaksanakan perintah-Nya, ditambah puasa wajib di bulan ini. Dan hanya orang-orang yang bertakwalah yang mampu mendapatkan semua itu.

Namun waktu akan terus berjalan, dan seiring berjalannya waktu bulan Ramadhan pun akan berakhir. Akan tiba bulan selanjutnya yaitu bulan Syawal, yang mana pada tanggal 1 Syawal 1437 H ini seluruh umat Islam akan merayakan hari kemenangan. Saling memaafkan, dan saling berbagi kepada sesama.

Maka kami dari grup Pondok Sehat Kita, mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menerima ibadah shaum kita dan ibadah-ibadah lainnya dibulan sebelumnya yaitu bulan Ramadhan. Aamiin . .

Sahabat sehat, sehubungan dengan akan berlangsungnya perayaan hari Raya Idul Fitri, disini saya akan membagikan sedikit ilmu tentang adab-adab di hari Raya dan bab-bab yang berhubungan dengan hari Raya, agar yang kita lakukan di hari raya itu menjadi ibadah di sisi Allah.




BAB HARI RAYA Dan Adab-adabnya

·         Disunnahkan memakai pakaian yang terbaik. Namun bukan berarti pakian yang baru, setidak-tidaknya pakaian yang terlihat baik dan suci. (Bukhari).

·         Rasulullah saw. sendiri mempunyai pakaian khusus yang dikenakan hanya pada hari Raya. (Ahmad).

·         Sunnah menyantap makanan sebelum pergi untuk shalat Idul Fitri. (Bukhari, Tirmidzi). * Karena sebelumnya sudah berpuasa sebulan penuh, maka pada hari Idul Fitri hendaknya makan atau minum dahulu sebelum shalat menandakan bahwa pada hari itu kita tidak berpuasa. Nabi saw. biasa makan beberapa kurma dengan ganjil sebelum shalat Idul Fitri. (Bukhari).

·         Dan disunnahkan agar tidak memakan apapun sebelum melaksanakan shalat Idul Adha. (Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

·         Shalat Hari Raya boleh dilaksanakan tanpa menggunakan mimbar. (Bukhari).

·         Tidak ada adzan dan Iqamat pada shalat hari Raya. Dan tidak ada shalat Sunnah qabliyah atau ba’diyah hari Raya. (Bukhari).

·         Sunnah ada khutbah setelah shalat hari Raya. (Bukhari).

·         Sunnah memendekkan shalat hari Raya dan memanjangkan khutbah serta memperbanyak takbir. (Ibnu Majah). *Disunnahkan takbir dengan suara keras. (Bukhari).

·         Hendaknya menyegerakan shalat Idul Adha dan melambatkan shalat Idul Fitri.

·         Dianjurkan bersedekah setelah shalat Hari Raya. Biasanya Nabi saw. setelah turun dari khutbah ditemani oleh Bilal r.a langsung membuka sorbannya untuk menerima sedekah dari para shahabat. (Bukhari).

·         Makruh membawa senjata pada hari Raya, apabila terhunus. (Bukhari).

·         Wanita yang haid dianjurkan datang ke tempat shalat hari Raya dan ikut bertakbir namun ditempatkan terpisah. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud). * Dan khatib disunnahkan memberi nasehat khusu bagi kaum wanita setalah khutbah hari Raya. (Bukhari).

·         Imam hari Raya hendaknya memakai satir atau penghalang. (Bukhari). * Sebab, shalat di lapangan terbuka tidak ada dinding di hadapan. Pengahalang bagi imam sudah mencukupi untuk seluruh jamaah.

·         Sunnah membaca surat Al-A’la di rakaat pertama, dan Al-Ghasyiyah di rakaat kedua pada shalat hari Raya. Nabi saw. pun pernah membaca surat Qaf dan ‘Iqtarabatis saa’ah’. (Jamaah, kecuali Bukhari).

·         Sebaiknya berjalan menuju tempat hari Raya melalui jalan yang tidak biasa dilewati. Dan pergi pulang melalui jalan yang berbeda. (Bukhari). * Asal aman.






BAB PAKAIAN DAN BERHIAS Dan Adab-adabnya

·         Diperintahkan agar berpakaian dengan baik. Sesungguhnya Allah saw. tidak menyukai yang kotor dan jorok. (Abu Dawud).

·         Sunnah memakai pakaian berwarna putih. Rasulullah saw. menyukai pakaian yang berwarna putih. (Tirmidzi, Ibnu Majah).

·         Memulai berpakaian dengan memasukan tangan kanan lebih dulu, kemudian tangan kiri. Begitu pun jika memakai alas kaki. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi).

·         Boleh memakai sarung atau celana, asal tidak sampai bawah mata kaki. Sarung atau celana yang melebihi mata kaki adalah bagian untuk neraka, terutama jika ada kesombongan di dalam hati. (Bukhari, Muslim, Ibnu Majah).

·         Nabi saw. senang memakai jubah atau kurtah (gamis berlengan panjang sampai pergelangan tangan dan tidak berkerah). Beliau pernah berpakaian warna merah, hitam, dan putih, tapi lebih menyukai warna putih dari katun. (Tirmidzi). * Yang penting sederhana. Nabi saw. mengkhususkan pakaian bagus ketika hari Raya, hari Jum’at, dan ketika manghadapi tamu. (Nasa’i).

·         Ketika berpakaian disunnahkan membaca do’a :




“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian ini, dan memberikannya kepadaku sebagai rezeki, bukan kekuatan dan upaya dariku.”

·         Apabila memakai baju baru, disunnahkan membaca do’a :




“ Ya Allah bagi-Mu lah segala pujian, Engkaulah yang memakaikannya kepadaku. Aku memohon dari-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan dari apa yang dibuat baginya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan dari apa yang dibuat darinya.”

·         Sunnah memakai topi dan bersorban. Sorban Rasulullah saw. mempunyai ujung yang jatuh ke pundaknya. (Muslim, Tirmidzi). * Beliau pernah memasuki kota Mekkah bersorban hitam. (Bukhari, Tirmidzi).

·         Pada musim dingin boleh memakai kaos kaki dari kulit (Khuf). (Tirmidzi).

·   Sandal Rasulullah saw. mempunyai tali sandal yang bercabang dua. (Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i).

·         Sebaiknya memakai dan melepas sandal/sepatu tidak dengan berdiri. Dan melepas sandal-sepatu hendaknya dengan tangan kiri. Melepaskannya  mulai dari kaki kiri dan memakaikannya mulai dengan kaki kanan. (Bukhari).

·  Dilarang memakai hanya sebelah sandal. Hendaknya memakai keduanya atau menanggalkan semuanya. (Bukhari,Muslim,Tirmidzi).

·         Rasulullah saw. memakai selimut bercorak garis-garis. (Tirmidzi).

·         Atauran untuk pakaian wanita, yaitu hendaknya  :

ü  Menutup aurat (Al-Quranul Karim).
ü  Tidak tipis. (Bukhari, Muslim, dan Malik).
ü  Tidak membentuk tubuh. (Abu Dawud).
ü  Tidak seperti pakaian orang kafir/musryik. (Ibnu Majah).
ü  Tidak memakai harum-haruman, kecuali untuk suami. (Thabrani, Ahmad).
ü  Bukan untuk kesombongan. (Bukhari, Nasa’i).
ü  Sebaiknya berwarna gelap. (Ibnu Majah). * Ketika pertama kali turun ayat hijab, para shahabiah seperti burung-burung gagak hitam.


Pakaian yang Dilarang

·    Pakaian yang terbuat dari kulit bangkai, kulit harimau dan kulit binatang buas. (Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah).

·         Pakaian sempit dan ketat. (Nasa’i)

·         Pakaian kesombongan dan kemewahan. (Bukhari, Nasa’I, Ibnu Majah).

·         Lelaki berpakaian sutera. (Bukhari, Muslim). Kecuali bagi :

a)    Orang yang berpenyakit kulit. (Bukhari, Nasa’I, Ibnu Majah).
b)   Tidak ada lagi kain untuk menutup auratnya. (Imam Nawawi).
c)    Berpakaian dari kain campuran dengan kadar suteranya jauh lebih sedikit daripada kain biasa, seperti rendanya saja. (Muslim).

·         Lelaki berpakaian wanita dan sebaliknya. (Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i).

·         Berpakaian meniru-niru pakaain Yahudi dan Nasrani. (Ibnu Majah).

·  Berpakain hanya berlengan satu atau jubah tanpa lengan sama sekali. (Bukhari). * Maksudnya baju panjang tidak berlengan, bukan rompi.

·         Berpakaian yang dicelup dengan warna. (Tirmidzi).

·         Berpakaian yang tidak menutup aurat. (Bukhari, Muslim).

·         Laki-laki berpakain waran kuning kemerah-merahan (pakaian umat Hindu/Budha). (Bukhari, Muslim).

Berhias

·         Laki-laki haram berhias seperti wanita dan sebaliknya. (Bukhari). *termasuk dalam masalah anting, cincin, rambut, perhiasan, sandal, pakaian, dsb.

·         Wanita boleh mengecat kukunya (memaki pacar). (Nasa’i).

·        Dilarang mencabut, mengerik atau mencukur bulu alis kemudian diganti dengan alis buatan, merenggangkan dan meruncingkan gigi, serta memakai tahi lalat palsu agar tampak lebih cantik. (Bukhari, Muslim).

·         Diharamkan tattoo. Yang mentatto dan yang ditatto diaknat Allah. (Bukhari).

·    Disunnahkan memakai celak pada malam hari. Dan bagi wanita dibolehkan hanya untuk suaminya. Dan disunnahkan memakai wangi-wangian bagi laki-laki, bagi wanita hanya untuk suaminya. Minyak wangi lelaki sebaiknya berbau keras dan warnanya samar-samar. Sedangkan minyak wangi bagi wanita adalah berbau lembut dan warnanya gelap. (Abu Dawud).

·      Wanita dilarang menampakkan perhiasan emas kepada orang lain, kecuali kapada suaminya atau mahramnya. (Al-Qur’an). *Neraka bagi wanita yang menampakkan perhiasan kalung, gelang, atau anting-anting emasnya kepada selain mahramnya. (Nasa’i).

·         Tidak boleh menghiasai rumah dengan genta, lonceng, gambar dan patung-patung makhluk hidup, serta hiasan apapun yang berbentuk salib. Juga menggunakan tirai atau penutup ruangan dari kain sutera. (Bukhari, Muslim).





Sekian dan terimakasih, mohon maaf atas segala kekurangannya J

Sumber : Petunjuk Sunnah dan Adab Sehari-hari (Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny)

Popular Posts