Kisah Shahabat Anshar


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh . . .

Salam Sehat untuk Sahabat semua :)


     Positngan pagi ini adalah mengenai kisah tauladan para shahabat Nabi saw. Kami bagikan akan membagikan untuk sahabat semua mengenai kisah-kisah bertujuan untuk memberikan inspirasi dari segi apapun dengan mengambil kisah para shahabat. Agar blog ini tidak terlalu monoton, maka kami berinisiatif untuk menyisipkan kisah-kisah yang insyaAllah dapat menjadi suri tauladan bagi kehidupan kita semua.

KISAH SHAHABAT ANSHAR

    Anas r.a. meriwayatkan, bahwa seorang Anshar pernah datang kepada Rasulullah saw. dan meminta sesuatu. Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah di rumahmu benar-benar tidak ada apa-apa ?” Ia menjawab, “Wahai Rasullullah, di rumah saya ada kantung kain terpal. Satu bagian saya pakai untuk selimut, satu bagian saya bentangkan untuk istirahat tidur, dan sebuah gelas yang saya pakai untuk minum.”

    Rasulullah saw. bersabda, ”Bawalah kedua barang itu kepadaku.”. Orang itu pun membawa kedua barang itu ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. mengambil kedua barang tersebut dan mengumumkan, “Siapa yang mau membeli barang ini dariku ?” Seseorang menjawab, “Aku akan membeli keduanya seharga satu dirham.”

        Rasulullah saw. bertanya beberapa kali,” Siapa yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi ?” Akhirnya seseorang berkata, “Aku akan membelinya dengan harga dua dirham.” Kemudian Rasulullah saw. menjual kedua barang tersebut seharga dua dirham dan memberikan dua dirham tersebut keada orang Anshar tadi seraya bersabda, “ Belilah makanan dengan satu dirham dan berikan sebagai makanan untuk keluargamu, sedang satu dirham lagi belikan kapak, lalu bawalah kapak itu kepadaku.”

   Orang Anshar tadi kembali dengan membawa kapak. Rasulullah saw. kemudian mengambil kapak dengan tangannya yang penuh berkah dan memasangkan pegangan kapak itu lalu bersabda, “ Pergilah, potonglah kayu dan juallah. Jangan datang kepadaku sebelum lima belas hari.”

        Orang itu menjalankan apa yang Rasulullah saw. perintahkan dan datang lagi setelah lima belas hari dengan membawa uang sepuluh dirham. Dengan uang itu, dia membeli pakaian dan makanan. Rasulullah saw. bersabda, “ Ini lebih baik bagimu daripada engkau muncul pada hari Kiamat dengan bopeng di wajahmu yang menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pengemis.”

            Mari kita lihat apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas.

     Ada seorang yang meminta bantuan, padahal orang ini  secara syariat pun diperbolehkan meminta, karena memang benar-benar tidak memiliki uang sedikit pun untuk membeli makanan. Rasulullah saw. bisa saja langsung memberikan uang/makanan atau memerintahkan sahabat lain untuk membantunya. Namun, Rasulullah saw. justru bertanya, “Apakah di rumahmu benar-benar tidak ada apapun ?” Jawabannya, “Ada, kain terpal untuk alas tidur dan selimut, lalu sebuah gelas untuk minum.”

         Yang bisa kita pahami dari dialog Rasulullah saw. dengan orang Anshar ini adalah dia memang sangat miskin. Jangankan uang untuk membeli makanan. Ternyata barang yang ada pun hanya alas selimut dan gelas saja. Namun Rasulullah saw. ingin mengajarkan kepada seluruh umatnya, bagaimana cara mengubah orang ini menjadi orang yang mulia, manusia yang mandiri.

    Rasulullah saw. perintahkan agar KEKAYAAN yang cuma segitu saja, ia korbankan menjadi modal usaha. Satu dirham atau separuh hartanya untuk menopang kehidupan sehari-hari dan separuh hartanya untuk modal kerja yang dibelikan kapak. Padahal, kalau dinilai dari asset/kekayaan yang ia miliki, orang Ashar ini termasuk fakir (sangat butuh) dan mustahik (berhak menerima) zakat, apalagi infak. Sangat mudah juga bagi Rasulullah saw. untuk memberikan bantuan makanan dan alat kerja berupa kapak pada orang tersebut. Namun Rasulullah saw. tidak melakukan hal itu.

    Sahabat Sehat, sifat mandiri sangat penting bagi kehidupan kita sebagai manusia, karena ketika kita ingin menjadi pribadi yang tangguh maka harus berjuang untuk tidak meminta kepada orang lain. Berusaha untuk tidak menjadi beban pikiran orang lain karena kita tidak mau berusaha untuk meraih segala sesuatu dengan hasil kerja keras sendiri.

     Jangan selamanya menjadi manusia yang berjiwa konsumtif, berusahalah untuk menjadi manusia yang produktif dan inovatif. Meskipun usaha yang ktia lakukan itu terbilang kecil, namun selama ktia tidak meminta-minta kepada orang lain itu lebih baik daripada besar namun hasil meminta-minta atau berharap diberi oleh orang lain.

Sekian dan terimakasih

Semoga bermanfaat :)

Sumber  : Belajar Dari Rasulullah saw. Mencetak Pengusaha Sukses Mandiri Dunia Akhirat, Yusuf (Ahung) Efendy


            

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Popular Posts